I. Judul
Ekskresi
II.
Tujuan
a.
Menentukan kandungan kimiawi urin.
b.
Memeriksa ada atau tidak adanya glukosa
dalam urin.
c.
Memeriksa ada atau tidak adanya albumin
dalam urin.
d.
Memeriksa ada atau tidak adanya chlorida
dalam urin.
e.
Untuk mengenal bau amonia dari hasil
penguraian urea dalam urin.
f.
Membuktikan adanya urea dalam urin.
III.
Landasan Teori
LANDASAN TEORI
A. Pengertian
Urin
Urin atau air seni
adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan
dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi urin diperlukan
untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan
untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa
melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya dibuang keluar tubuh melalui
uretra. Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme
(seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk
urin berasal dari darah atau cairan interstisial.
Komposisi urin berubah
sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal
glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang
tersisa mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang
berlebih atau berpotensi racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang
terkandung di dalam urin dapat diketahui melalui urinalisis. Urea yang
dikandung oleh urin dapat menjadi sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan
dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos. Diabetes adalah suatu
penyakit yang dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang penderita diabetes
akan mengandung gula yang tidak akan ditemukan dalam urin orang yang sehat.
B.
Ciri-Ciri
Urin Normal
Urin normal memiliki ciri-ciri
sebagai berikut, antara lain:
1. Rata-rata dalam satu hari 1-2 liter, tapi
berbeda-beda sesuai dengan jumlah cairan yang masuk.
2. Warnanya bening oranye tanpa ada endapan.
3. Baunya tajam.
4. Reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan
pH rata-rata 6.
5. Kadar gula dibawah 1%.
6. Tidak mengandung protein dan sel darah merah.
C. Fungsi Urin
Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau
obat-obatan dari dalam tubuh. Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang
"kotor". Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal
dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinnya pun akan
mengandung bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan saluran kencing
yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup steril dan hampir bau yang
dihasilkan berasal dari urea. Sehingga bisa diakatakan bahwa urin itu merupakan
zat yang steril.
Urin dapat menjadi penunjuk dehidrasi. Orang yang tidak menderita
dehidrasi akan mengeluarkan urin yang bening seperti air. Penderita dehidrasi
akan mengeluarkan urin berwarna kuning pekat atau cokelat.
D. Kandungan Urin
Secara kimiawi kandungan zat dalan
urin diantaranya adalah sampah nitrogen (ureum, kreatinin dan asam urat), asam
hipurat zat sisa pencernaan sayuran dan buah, badan keton zat sisa metabolism
lemak, ion-ion elektrolit (Na, Cl, K, Amonium, sulfat, Ca dan Mg), hormone, zat
toksin (obat, vitamin dan zat kimia asing), zat abnormal (protein, glukosa, sel
darah Kristal kapur dsb)
Urin normal memiliki kisaran pH
antara 5-7 sehingga bisa disebut sedikit asam. Hal ini bergantung pada
konsumsi. Urin lebih asam jika banyak mengkonsumsi protein, sebaliknya bagi
vegetarian urin akan bersifat basa. Untuk mengukurnya bisa digunakan kertas
indikator universal dan mencocokkannya dengan warna standar pH.
D. Bau
pada Urin
Jika urin berasal dari ginjal dan
saluran kencing yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup steril dan
hampir tidak berbau ketika keluar dari tubuh. Hanya saja beberapa saat setelah
meninggalkan tubuh, bakteri akan mengkontaminasi urin dan mengubah zat-zat di
dalam urin dan menghasilkan bau yang khas terutama bau amonia yang dihasilkan
dari urea. Inilah yang sering kita sebut bau pesing. hehe
Bau urin dapat bervariasi karena
kandungan asam organik yang mudah menguap. Diantara bau yang berlainan dari
normal seperti: bau oleh makanan yang mengandung zat-zat atsiri seperti
jengkol, petai, durian, asperse dll. Bau obat-obatan seperti terpentin, menthol
dsb, Bau amoniak biasanya terjadi kalau urin dibiarkan tanpa pengawet atau
karena reaksi oleh bakteri yang mengubah ureum di dalam kantong kemih. Bau
keton sering pada penderita kencing manis, dan bau busuk sering terjadi pada
penderita keganasan (tumor) di saluran kemih.
IV.
Alat dan Bahan
Kegiatan 1:Uji Sifat Kimiawi Urin
Alat:
1.
Lima
buah tabung reaksi
2.
Pipet
pasteur
3.
Bunsen
4.
Penjepit
tabung reaksi
5.
Gelas
ukur
6.
Tripod
|
Bahan:
1.
Urin
2.
Reagen
benedict
3.
Asam
asetat 6%
4.
Larutan
gula konsentrasi 10%
5.
Putih
telur
6.
Air
mendidih
|
Kegiatan 2: Glukosa dalam Urin
Alat:
1.
Tabung
reaksi
2.
Pipet
tetes
|
Bahan:
1.
Urin
2.
Larutan
benedict
|
Kegiatan 3: Albumin dalam Urin
Alat:
1.
Tabung
reaksi
2.
Pipet
tetes
|
Bahan:
1.
Urin
2.
Asam
Nitrit pekat
|
Kegiatan 4: Chlorida dalam Urin
Alat:
1.
Tabung
reaksi
2.
Pipet
tetes
|
Bahan:
1.
Urin
2.
Larutan
AgNO3 10%
|
Kegiatan 5: Amonia dalam Urin
Alat:
1.
Tabung
reaksi
2.
Pipet
tetes
3.
Bunsen
|
Bahan:
1.
Urin
|
Kegiatan 6: Urea dalam Urin
Alat:
1.
Objek
gelas
2.
Pipet
tetes
|
Bahan:
1.
Urin
2.
Larutan
jenuh Asam Oksalat
3.
Larutan
Sodium Hipobromide
|
V.
Prosedur Kerja
Kegiatan 1: Uji Sifat
Kimiawi Urin
a.
Langkah 1:
1. Siapkan 4 tabung reaksi beri nomor 1 sampai dengan 4
2. Isi tabung 1 dengan setetes larutan glukosa 10% , tabung 3
dengan 1ml putih telur, tabung 2 isi dengan 1 ml urin, tabung 4 dengan 2/3 urin
dari volume tabung
3. Pada tabung 1 dan 2 selanjutnya diberi masing-masing 5 tetes
reagen benedict. Selanjutnya kedua tabung dimasukan ke dalam air mendidih
selama sekita 5 menit, bersama tabung 3.
4. Amatilah perubahan yang terjadi mengennai warnanya,
bandingkan warna tabung 1 dan 2.
b. Langkah
2:
1. Panasi permukaan tabung 4 selama 30 detik di atas bunsen
melalui bantuan pemegang tabung reaksi
2. Amatilah perubahan warna yang terjadi. Jika keruh kemungkinan
ada 3 penyebab yaitu adanya protein, kalsium fosfat atau kalsium karbonat.
3. Selanjutnya tetskan sebanyak 3-5 tetes asam asteat 6%.
Amatilah perubahan yang terjadi mengenai kekeruhannya.
Kegiatan 2: Glukosa dalam Urin
1. Didihkan 5 ml larutan Benedict dalam tabung reaksi
2. Tambahkan 8 tetes ke dalam larutan tadi dan panaskan lagi
selama 1-2 menit, kemudian biarkan dingin.
3. Amatilah adanya perubahan warna (endapan) yang terjadi, bila
:
a. Hijau : kadar glukosa 1 %
b. Merah : kadar glukosa 1,5%
c. Oranye : kadar glukosa 2%
d. Kuning : kadar glukosa 5%
a. Hijau : kadar glukosa 1 %
b. Merah : kadar glukosa 1,5%
c. Oranye : kadar glukosa 2%
d. Kuning : kadar glukosa 5%
Kegiatan 3: Albumin dalam Urin
1. Masukkan
5 ml asam nitrit pekat ke dalam tabung reaksi.
2. Miringkan
tabung reaksi tersebut kemudian tetesi urin dengan mempergunakan pipet tetes
secara perlahan hingga urin turun melalui sepanjang tabung.
3. Bila
urin mengandung albumin akan terlihat adanya cincin berwarna putih yang
terdapat pada daerah kontak urin dan asam nitrit.
Kegiatan 4: Chlorida dalam Urin
1. Masukkan 5 ml urin ke dalam tabung
reaksi kemudian tetesi dengan larutan AgNO3 beberapa tetes.
2. Amati perubahan yang terjadi,
endapan putih menunjukkan adanya Chlorida radikal.
Kegiatan 5: Amonia dalam Urin
1. Masukkan 1 ml urin ke dalam tabung
reaksi.
2. Panaskan dengan menggunakan bunsen.
3. Ciumlah bagaimana baunya?
Kegiatan 6: Urea dalam Urin
1. Teteskan beberapa urin pada objek
gelas, kemudian hadapkan pada cahaya matahari biarkan sebagian dari urin
tersebut menguap.
2. Tambahkan setetes larutan jenuh asam
oksalat.
3. Amati kristal urea yang terbentuk.
4. Tambahkan beberapa tetes larutan
sodium hipobromide.
5. Pemuaian nitrogen tampak akibat
dekomposisi urea.
VI.
Hasil Pengamatan
Tabel 1. Uji Sifat
Kimiawi Urin
Tabung reaksi
|
Komposisi
|
Reaksi Perubahan Warna
|
Keterangan
|
1
|
Glukosa
10% + reagen benedict
|
Merah
Bata
|
Kadar
glukosa 1,5 %
|
2
|
Urine
+ reagen benedict
|
Hijau
|
Kadar
glukosa 1 %
|
3
|
Putih
telur
|
Putih
|
Tidak
ada glukosa
|
4
|
Urine
dipanaskan
|
Tidak
ada perubahan
|
Tidak
ada kalsium fosfat atau kalsium karbonat
|
Tabel 2. Glukosa Dalam
Urine
Komposisi
|
Reaksi Perubahan Warna
|
Hasil Uji Glukosa
|
Urine+benedict
|
Hijau
|
Kadar
Glukosa 1%
|
Tabel 3. Albumin Dalam Urine
Komposisi
|
Reaksi
|
Hasil Uji Albumin
|
Urine + 5 ml asam nitrit pekat
|
Tidak
terbentuk cincin putih
|
(-)
|
Tabel 4. Chlorida Dalam Urine
Komposisi
|
Reaksi
|
Hasil Uji Chlorida
|
Urine+ larutan AgNO3
|
Terbentuk endapan putih
|
(+)
|
Tabel 5. Amonia Dalam Urine
Komposisi
|
Reaksi setelah dipanaskan
|
Hasil Uji Amonia
|
Urine
|
Ada
|
(+)
|
Tabel 6. Urea Dalam
Urine
Komposisi
|
Reaksi
|
Hasil Uji Urea
|
Urine + asam oksalat + sodium hipobromide
|
Tidak tampak pemuaian nitrogen
|
(-)
|
VII.
Pembahasan
Pada
uji sifat kimiawi urin disiapkan 4 botol dan diberi label botol 1 yang berisi
glukosa 10%, botol ke 2 urine, botol 3 putih telur dan botol ke 4 urine.
Hasilnya setelah botol ke 1 dan 2 ditetesi reagen benedict dan botol ke 4
dipanaskan, ke 4 botol memberikan warna yang berbeda. Botol 1 berwarna endapan
merah bata, botol 2 berwarna hijau, botol 3 putih dan botol ke 4 bening. Hal
ini membuktikan bahwa botol 1 mengandung glukosa dan sekaligus menjadi
indikator. Botol ke 2 memberi endapan berwarna hijau, hal ini berarti bahwa
mengandung glukosa dengan kadar 1%. Sedangkan botol ke 2 tetap putih karena
putih telur tidak mengandung glukosa, dan botol ke 4 tidak mengandung protein,
kalsium fosfat atau kalsium karbonat karena kondisi urine bening setelah dipanasi.
Percobaan yang ke 2 mengenai uji
glukosa pada urine. Setelah dilakukan percobaan dengan menggunakan reagen
benedict ternyata memberikan endapan berwarna hijau. Endapan ini
terjadi karena adanya reaksi yang terjadi antara glukosa dan larutan benedict.
Larutan benedict adalah larutan yang dibuat dari
campuran kuprisulfat, natrium karbonat dan natrium sitrat. Glukosa dapat
mereduksi ion C++ kuprisulfat menjadi ion Cu+
yang kemudian mengendap sebagai Cu2O. Adanya natrium karbonat dan
natrium sitrat membuat pereaksi Benedict bersifat basa lemah. Endapan yang
terbentuk dapat berwarna hijau, kuning atau merah bata. Warna endapan ini
tergantung pada konsentrasi glukosa yang diperiksa. Semakin banyak kandungan
glukosa dalam urine maka endapan yang terjadi akan semakin banyak dan berwarna
kuning. Sehingga dapat
dikatakan bahwa pada urine tersebut mengandung
glukosa. Namun kadar glukosa dari kedua urine tersebut berbeda, yakni pada
urine penderita DM mengandung kadar glukosa sebanyak 5% dan pada urine tersebut
kadar glukosa sebanyak 1%.
Berdasarkan
hasil tes yang dilakukan, urine tidak ada albumin (tidak terbentuk cincin putih).
Hal ini menunjukkan bahwa ginjal penghasil
sampel urine ini normal atau masih dapat menyaring albumin dengan baik.
Sedangkan pada urine yang mengandung albumin ditandai dengan terbentuknya
cincin putih pada daerah kontak urine dan asam nitrit. Idealnya, di dalam urine
tidak terdapat albumin. Hal ini dikarenakan ukuran molekul albumin yang cukup
besar sehingga dapat disaring dalam proses filtrasi oleh glomerulus di ginjal.
Namun, apabila di dalam urine terdapat albumin maka dapat diindikasikan bahwa
ginjal tidak bekerja dengan baik terutama pada proses filtrasi. Protein albumin
jika terkena asam nitrat pekat akan terjadi denaturasi protein di permukaan dan
membentuk cincin putih diantara urine dan asam nitrit pekat. Sehingga asam
nitrat pekat ini sangat berguna untuk membantu mengidentifkasi adanya kandungan
albumin dalam urine.
Dari
hasil tes chlorida urine yang dilakukan, urine yang diuji mengandung chlorida
radikal. Hal ini ditandai dengan adanya endapan putih pada setiap urine setelah
ditetesi larutan perak nitrat (AgNO3) beberapa tetes. Endapan putih
ini berasal dari Reagent AgNO3 yang digunakan saat pengujian yang
bereaksi dengan Cl- yang terkandung di dalam urine dan membentuk AgCl.
Kelarutan yang rendah di dalam pelarut menyebabkan AgCl akan mengendap. Chlorida
dalam urine berasal dari NaCl yang terdapat pada hampir setiap makanan yang
dikonsumsi. NaCl ini kemudian diuraikan menjadi Natrium dan Chlorida. Kemudian
chlorida tersebut akan diedarkan oleh darah ke seluruh tubuh kemudian sisanya
yang bersifat racun dikeluarkan melalui urine.
Dari hasil
pengamatan, sampel urine ini tercium bau pesing, bau ini menandakan adanya
kandungan amonia di dalam urine. Perbedaannya yaitu terdapat pada tingkatan bau
yang terdapat di setiap urine. Sebelum melakukan tes bau amonia pada urine,
mula-mula urine tersebut dipanaskan terlebih dahulu. Hal ini dilakukan dengan
tujuan untuk mempercepat reaksi atau penguapan pada urine karena urine memiliki
kandungan air yang jika dipanaskan akan menguap dan uap air tersebut akan
membawa molekul-moleku amonia. Sehingga praktikan dapat dengan mudah mencium
bau urine. Urine dalam kondisi normal memang berbau, tetapi tidak sangat
menusuk hidung (tajam). Bau urine dapat dideskripsikan bau amis, busuk, manis
atau bau seperti belerang atau amonia. Pada beberapa kasus, bau urine yang
sangat menusuk bisa disebabkan karena berbagai kondisi yang pada umumnya tidak
membahayakan. Misalnya saja karena makanan atau minum obat yang akan berefek
pada urine. Selain kondisi yang normal (fisiologis), bau urine yang menyengat
itu juga bisa menunjukkan kemungkinan penyakit atau ketidaknormalan
(patologis). Bau urine bisa merupakan gejala antara lain infeksi, radang, atau
kondisi lain dari saluran kencing kita (mulai ginjal, ureter, kandung kemih dan
uretra). Selain itu bau menyengat pada urine bisa juga disebabkan karena
penyakit yang diderita sebelumnya, seperti kencing manis (diabetes) dan
dehidrasi (kekurangan cairan) yang pada akhirnya mempengaruhi saluran kencing
dan juga sistem organ yang lain.
Setelah
melakukan uji kandungan urea dalam
urine, tidak terdapat kristal oksalat yang terbentuk. Hal ini membuktikan bahwa
urine tersebut tidak mengandung urea. Sebelum melakukan pengamatan, urine
terlebih dahulu diuapkan sebagian. Hal ini dilakukan agar kandungan air dalam
urine berkurang. Kandungan urea dalam urine dapat dideteksi dengan memberikan
larutan oksalat untuk mengamati ada tidaknya kristal urea oksalat, dan kemudian
ditambahkan larutan sodium hipobromide. Penambahan larutan ini berguna untuk
melihat kristal yang lebih tajam. Perubahan yang terjadi pada proses ini karena
adanya pemuaian nitrogen akibat adanya penguraian urea.
VIII.
Pertanyaan dan Jawaban
1. Sifat Kimiawi Urine
a. Apakah sebenarnya
fungsi tabung 3 dalam langkah 1?
Jawab :
Tabung 3 berfungsi sebagai pengontrol
b. Apakah kekeruhan
hilang atau tetap pada langkah 2?
Jawab :
tidak
keruh , hal ini berarti kadar unsur
– unsur yang terlarut didalam urine tidak tinggi karena menurut MedlinePlus
yang merupakan Medical Encyclopedia urin yang terlalu keruh menandakan tingginya
kadar unsur-unsur yang terlarut di dalamnya.
c. Sebenarnya unsur
apakah yang banyak terdapat pada urin?
Jawab:
urine adalah 95 %- 98 % air, sisanya diantaranya
yaitu urea, zat warna empedu, vitamin dan mineral, urea , garam , ammonia ,albumin,
dan lainnya.
d. Mengapa protein tidak
terdapat pada urine?
Jawab :
Karena molekul protein
lebih besar daripada molekul-molekul natrium, urea, klorida sehingga pada saat
di glomerulus molekul protein tidak dapat melewati pori-pori. Pada urine normal
tidak terdapat protein.
2. Glukosa dalam urine
a. Buatlah siklus
perubahan glukosa dalam tubuh dan jelaskan mengapa terjadi perubahan demikian?
Jawab:
Glukosa masuk siklus
glikolisis menghasilkan asam piruvat, kemudian masuk daur krebs dan transpor
elektron untuk menghasilkan energi berupa ATP.
atau secara detail Proses Glikolisis yaitu Metabolisme Glukosa , Tahap awal metabolisme konversi glukosa menjadi energi di dalam tubuh akan berlangsung secara anaerobik melalui proses yang dinamakan Glikolisis (Glycolysis). Proses ini berlangsung dengan mengunakan bantuan 10 jenis enzim yang berfungsi sebagai katalis di dalam sitoplasma (cytoplasm) yang terdapat pada sel eukaryotik (eukaryotic cells). Inti dari keseluruhan proses Glikolisis adalah untuk mengkonversi glukosa menjadi produk akhir berupa piruvat.
atau secara detail Proses Glikolisis yaitu Metabolisme Glukosa , Tahap awal metabolisme konversi glukosa menjadi energi di dalam tubuh akan berlangsung secara anaerobik melalui proses yang dinamakan Glikolisis (Glycolysis). Proses ini berlangsung dengan mengunakan bantuan 10 jenis enzim yang berfungsi sebagai katalis di dalam sitoplasma (cytoplasm) yang terdapat pada sel eukaryotik (eukaryotic cells). Inti dari keseluruhan proses Glikolisis adalah untuk mengkonversi glukosa menjadi produk akhir berupa piruvat.
Pada proses Glikolisis,
1 molekul glukosa yang memiliki 6 atom karbon pada rantainya (C6H12O6) akan
terpecah menjadi produk akhir berupa 2 molekul piruvat (pyruvate) yang memiliki
3 atom karbom (C3H3O3). Proses ini berjalan melalui beberapa tahapan reaksi
yang disertai dengan terbentuknya beberapa senyawa antara seperti Glukosa
6-fosfat dan Fruktosa 6-fosfat.
Selain akan
menghasilkan produk akhir berupa molekul piruvat, proses glikolisis ini juga
akan menghasilkan molekul ATP serta molekul NADH (1 NADH3 ATP). Molekul ATP
yang terbentuk ini kemudian akan diekstrak oleh sel-sel tubuh sebagai komponen
dasar sumber energi. Melalui proses glikolisis ini 4 buah molekul ATP & 2
buah molekul NADH (6 ATP) akan dihasilkan serta pada awal tahapan prosesnya
akan mengkonsumsi 2 buah molekul ATP sehingga total 8 buah ATP akan dapat
terbentuk.
b. Bagaimana jumlah
glukosa dalam darah setelah beberapa saat anda makan?
Jawab:
Setelah makan kadar glukosa akan meningkat, karena sebagian besar makanan kita mengandung karbohidrat. Karbohidrat akan diubah jadi glukosa. Glukosa ini akan dibawa oleh darah atau dapat disimpan dalam bentuk glikogen otot dan hati jika kadar gula dalam darahnya berlebih. Kadar terendah glukosa biasanya yaitu pada pagi hari sebelum makan pertama kali.
Setelah makan kadar glukosa akan meningkat, karena sebagian besar makanan kita mengandung karbohidrat. Karbohidrat akan diubah jadi glukosa. Glukosa ini akan dibawa oleh darah atau dapat disimpan dalam bentuk glikogen otot dan hati jika kadar gula dalam darahnya berlebih. Kadar terendah glukosa biasanya yaitu pada pagi hari sebelum makan pertama kali.
c. Bagaimana hubungannya
dengan kadar glukosa optimum darah?
jawab:
Setelah makan kadar glukosa akan meningkat, tetapi pada saat itu tubuh akan berusaha untuk menstabilkan kadar glukosa dalam tubuh agar tidak terlalu tinggi atau pun terlalu rendah, jika kadar glukosa dalam darah melebihi batas optimum maka hal ini dapat berdampak negatif. Contohnya pada kasus diabetes mellitus, dimana kadar darah terus meninggi sehingga melewati batas optimum.
Setelah makan kadar glukosa akan meningkat, tetapi pada saat itu tubuh akan berusaha untuk menstabilkan kadar glukosa dalam tubuh agar tidak terlalu tinggi atau pun terlalu rendah, jika kadar glukosa dalam darah melebihi batas optimum maka hal ini dapat berdampak negatif. Contohnya pada kasus diabetes mellitus, dimana kadar darah terus meninggi sehingga melewati batas optimum.
3. Albumin Dalam
urine
a.
Apakah hubungannya antara kadar albumin yang
tinggi dalam urin dengan kesehatan yang bersangkutan?
Jawab:
Albumin merupakan molekul yang mempunyai berat molekul yang besar. Apabila dalam urin seseorang terdapat albumin, maka hal tersebut menunjukkan indikasi adanya kerusakan pada membran kapsul endhotollium. Selain itu, hal tersebut dapat disebabkan oleh iritasi sel ginjal dikarenakan masuknya substansi seperti bakteri, eter, atau logam berat.
Albumin merupakan molekul yang mempunyai berat molekul yang besar. Apabila dalam urin seseorang terdapat albumin, maka hal tersebut menunjukkan indikasi adanya kerusakan pada membran kapsul endhotollium. Selain itu, hal tersebut dapat disebabkan oleh iritasi sel ginjal dikarenakan masuknya substansi seperti bakteri, eter, atau logam berat.
4.
Chlorida dalam Urine
a.
Chlorida yang terdapat dalam urine berasal dari
apa?
Jawab:
Chlorida yang
terdapat dalam urine berasal dari makanan yang mengandung garam (NaCl).
b.
Apakah chloride selalu terdapat dalam urine?
Jawab:
Ya, karena
hampir semua makanan yang dimakan mengandung garam (NaCl).
c. Tuliskan reaksi kimia
yang terjadi pada percobaan diatas bila uji tersebut positif!
Jawab:
NaCl → Na+ + Cl-
AgNO3 + NaCl →
AgCl + NaNO3
5.
Amonia dalam urine
a.
Berasal dari apa ammonia dalam urine tersebut?
Jawab:
Amonia
adalah hasil deaminasi asam amino yang terjadi terutama di dalam hati dan
ginjal.
b. Enzim apa yang
bekerja?
Jawab:
Glutaminase
mengubah glutamin menjadi asam glutamat.
6. Urea dalam urine
a. Jelaskan bagaimanakah
terbentuknya urea dalam tubuh?
Jawab:
Urea dalam tubuh terbentuk sebagai
hasil samping metabolisme protein.Urea berasal dari bahan organik seperti asam
amino dan purin. Pembentukannya terjadi di hati. Urea sangat larut dalam air
dan sifat racunnya lebih kecil dari amonia. Terdapat 3 macam asam amino yang
berperan dalam pembentukan urea, yaitu Ornitin, Sitrulin, dan Argini
b. Bagaimanakah
mekeanisme pengeluaran urea dari tubuh?
Jawab:
Urea hasil
metabolisme protein dibawa oleh darah. Darah difiltrasi oleh ginjal sehingga
zat yang tidak dipakai lagi, salah satunya NH3 akan terpisah dari darah dan
keluar bersama urine.
IX. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum, kandungan glukosa,
albumin, klorida, amoniak dan urea pada urine sampel menunjukkan hasil yang
normal. Hal ini ditunjukkan dengan indikator setiap percobaan yaitu :
1.
Glukosa dalam urine, indikator berwarna
biru kehijauan menunjukkan kandungan glukosa dalam urine sedikit (normal) menandakan
fungsi ginjal baik.
2.
Albumin dalam urine, indikatornya tidak
terdapat struktur cincin putih yang menandakan bahwa tidak terdapatnya albumin
dalam urine, menunjukkan ginjal masih berfungsi dengan baik.
3.
Klorida dalam urine, indikatornya
terdapat endapan putih, menunjukkan urin tersebut mengandung klorida
4.
Amoniak dalam urine, indikatornya
terdapat bau pesing menandakan urin tersebut mengandung amoniak.
5. Urea
dalam urine, indikatornya terdapat kristal oksalat yang menunjukkan adanya urea
dalam urine tersebut. Namun pada hasil praktikum kami tidak terbentuk kristal
oksalat.
Daftar Pustaka
Ganong, William F.
2003. Fisiologi Kedokteran. Jakarta :
EGC
Slamet, Adeng. M.
Tibrani. 2013. Penuntun Praktikum
Fisiologi Manusia dan Hewan. Universitas Sriwijaya : Inderalaya.
Tibrani, Mgs. M. 2013. Diktat Panduan Belajar Fisiologi Manusia.
Universitas Sriwijaya: Inderalaya